Jendela Dunia yang Transparan
Sempat ku berpikir bahwa hidup merupakan sebuah kekejaman, dan terbayang apa yang harus dilakukan? Sempit memang prespektif dalam tong yang diisi air hujan dan banyaknya pilihan disetiap melewati sulitnya perkembangan
Semenjak konflik dan balas dendam dibalik itu ada sisi lain yang mendalam, pernah ku terjun dalam air yang keruh dan suram
Ada ilmu baru yang terus menerus terpaku, apakah semua yang buruk selalu disebar dan terencium busuknya bau? Kekecewaan dan ketidakadilan dalam akan menjadi setiap persoalan tak akan mampu
Seiring berjalannya massa perlahan terang tanpa menyakiti mata, tak terhalang dengan bayangan dusta yang seakan merebut bintang kejora, dengan titk kecil harapan penuh tanpa hampa
Mungkin wawasan dan intelektualku dibungkam dan dipenjara
Berangkat dari genderang misi pembalasan aku jadi tahu sudut pandang pemikiran, yang putih tak pernah seperti susu dan hitam tak pernah pekat seperti kegelapan
Ada masa dibalik perubahan, ada masa dibalik kesakitan, dan masa dibalik tetesan darah perjuangan pasti memiliki tujuan mulia untuk merubah peradaban, tak lupa tetesan air mata yang merelakan
Namun masih ada canda dalam kegelimpangan, masih ada senyum lebar yang mengingkhlaskan dan masih ada impian yang harus dikerjar sampai titik kepuasan
Banyak filsafat yang memperjelas bahwa jendela adalah metafora dari keterbukaan diri yang lugas, dibarengi dengan niat yang tulus untuk mencari dalamnya sumur pengetahuan tanpa batas Tak serta merta berhayal di sumur kandas yang selalu membayangi dalam luka yang berbekas, hanya kesucian akal dan nurani yang selalu menemukan titik terang dalam setiap bias, lalu apa artinya jika merudung dengan lemparan yang tak pantas?
Memang itu realita yang tak pasti yang memiliki sulitnya memecahkan ilusi, sehingga aku bertekuk lutut dalam suramnya dari sebuah opini
Tapi itu aku dulu yang suka berstigma yang tak pasti dengan berakibat pada rendahanya kualitas dan kesadaran diri
Sekarang mengejar derasnya angin akan membuat kebodohan yang tak pernah henti, dan pada akhirnya penyesalan nanti
Pasti pikiran bertanya-tanya, apakah yang kutulis hanyalah sebuah imajinasi belaka? Lalu bagaimana konsep rasionalitas dalam tulisan karya? Ataukah tulisan ini adalah bualan yang tak berdasar oleh fakta? Tunggu kelanjutan dari alur otak yang sulit untuk terbaca

Komentar
Posting Komentar