Sengit dalam Gempuran Peradaban

Banyak skeptis ilmuwan yang mengatakan

Bahwa dunia akan berpacu lebih cepat dari perkiraan

Perkembangan teknologi dan pengetahuan

Semakin maju dan tak terbendung dengan semua hambatan

 

Serba otomatis menjadi salah satu hasil inovasi

Memakai tenaga mesin menjadi hal yang lumrah untuk kegiatan sehari-hari

Lalu menjadi tanda tanya besar, apakah semua ini demi kepentingan masyarakat dan pribadi ?

Atau hanya memperkuat kapital, atau semata-mata efisiensi ?

 

Banyak akademisi yang pusing bikin penelitian untuk memberi donasi Namun inovator bertanggungjawab atas rusaknya hakikat manusia itu sendiri

Pemerintah hanya memenangkan jalan panjang birokrasi

Politisi repot dengan memanfaatkan kebobrokkan situasi

Modalis terseyum dan mengagumi dengan kecanggihan yang serba praktis ini

Media sibuk dengan agenda-agenda yang membuat opini

Rakyat seakan tak terbangun dari indahnya mimpi

Dan hanya orang-orang peduli yang menjadi saksi

 

Akankah perdamaian semu berlanjut hingga ajal bumi menjemput?

Bagaimana menanggapi kemajuan dengan metode dan cara tanpa kalang kabut?

Apa peran manusia-manusia hari ini untuk generasi mendatang dengan warisan yang berharga, untuk ditiru dan diturut?

 

Menjalankan visi bukannya hal mudah

Faktanya hal-hal sepele masih dianggap asumsi tanpa arah

Ketidakadilan masih merajalela seakan klasiknya alur cerita dari sebuah kisah

Kesetaraan masih bergulat dengan kenyamanan konservartif yang gundah

Pengangguran meningkat dengan banyaknya gelar tanpa bertingkah

Kemiskinan seakan pembicaraan tabu dan ditutupi tanpa celah

Isu lingkungan menjadi omong kosong aktivis yang berjuang demi bumi tanpa ada kata menyerah

 

Lalu ada pernyataan bahwa manusia hanya memakai 10 persen dari kapasitas

Yang tujuannya agar tidak berperilaku tanpa batas

Dan menyatakan bahwa sesuatu yang berada di puncak akan hancur tak berbekas

 

Alam seakan membungkam dengan waktu

Namun pada saaatnya memulai dan perlahan bangkit tanpa ditipu

Peradabaan yang maju bukan dilandasi rasa ambisi

Tapi dibangun dari akal sehat dan hati nurani

 Lantas, apakah di tahun selanjutnya akan berjalan? Hanya menunggu dengan melihat realita yang gelap tak beraturan

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan Populer