Dalam Orasi Buruh
Kita tahu sebagai manusia modern dengan dibalut dengan modal dan kapital yang bertumbuh, pasti dibalik itu ada pesuruh
Yah, dinamai dengan Buruh
Seseorang yang selalu pulang dengan keringat yang peluh
Dengan membawa kebutuhan yang sering kambuh
Demi keberlangsungan impian tertempa dan sering rapuh
Sistem hiearki yang mutlak dan tak pernah rubuh
Pengaruh kepentingan menjadi hal tak selalu sembuh
Banyak yang menderita dengan sistem yang belum pernah ada
Padahal dalam sejarah banyak sekali peristiwa lebih kejam dari kehidupan realita
Dari kekuasaan tirani, pewarisan raja-raja, hingga demokrasi sekarang pun juga sama
Yang jadi pertanyaan terbesar, apakah ada kesasalahan dalam sistem ataukah keegoisan yang tak pernah pudar?
Seringkali mempunyai ide baru yang ditebas dan terkubur, hingga dibantai oleh ketidakadilan pada semut yang tersedotnya lumpur
Dari kasus yang sebelumnya terjadi
Ada banyak daun yang akan gugur ketika melawan nanti
Begerak bersama dalam lantangnya orasi
Mulai dari dipenggal, dibungkam hingga pembunuhan yang ditutupi
Dan media seakan buta demi rating yang tinggi
Terkadangan, adil bukan seperti keadilan
Terlepas dari banyang-baynag konflik kepentingan
Adil ternyata bukanlah sebuah pernyataan yang konstan
Keadilanlah yang menjadi harapan dalam sucinya kehidupan
Namun tak akan bisa lupa
Bahwa sejatinya manusia adalah bentuk kesatuan dari rasa
Bahkan ada rasa pahit didalam yang selalu melekat dalam jiwa
Buruh hanyalah kata-kata yang dilontarkan para kaum terpelajar dengan nilai A
Buruh hanyalah sebutan dari para kapitalis yang ingin meraih kejayaan dan gelimang harta
Buruh hanyalah sebutan dari para petinggi negara yang rakus akan harta
Namun, buruh juga manusia
Bukan hanya butuh makan, dan tempat tinggal demi keluarga bahagia
Bukan hanya hiburan dan kesenangan yang melekat dan bermakna
Tapi dengan cara sebagaimana memperlakukan sebagai manusia seutuhnya

Komentar
Posting Komentar