~Cerpen
Tatapan Kosong Penikmat Surga
Sekian Lama, Rusi tak seperti dulu lagi. Dia hanya diam duduk di sebuah bangku yang berwarna merah tua sambil memandangi pepohonan di sekitar pondok “jiwa” Citra Kasih. Mukanya yang kusam dan murung menjadikan sebuah tanda tanya. Apa yang menyebabkan dia seperti itu?
Orang tua, saudaranya pun menitipkannya di pondok itu. Hanya teman-temannya yang setia selalu mengunjunginya. Walaupun betapa besar perjuangannya dulu seakan sia-sia seperti menguras air laut. Tapi dia memiliki sebuah tanggung jawab yang besar.
Anak terkasihnya Alif dan Stevi, hanya bisa pasrah.
Terkadang mereka merindukan sosoknya. Dia pekerja keras dan rajin untuk menafkahi kedua buah hatinya itu. Hingga mereka lepas dan bisa hidup mandiri seperti sekarang ini.
Tak dapat dipungkiri bahwa suaminya begitu tega meninggalkannya saat mereka masih kecil. Dan dia harus menghidupi kedua titipan Tuhan ini. Andai dia memiliki pasangan hidup yang setia, mungkin dia akan menjadi sosok yang patut dihormati.
Dengan kerasnya kehidupan dunia saat ini, tak ada pilihan kecuali kerja keras dan rela berkorban demi apapun. Namun, dia memilih di jalan yang salah. Jalan yang dia jalani begitu berguncang dan berliku hingga tak kuat dengan kondisi seperti itu.
Cahaya Tuhan pun mulai redup dalam hatinya dan tak pernah seterang dulu. Dia menjual apa yang berharga baginya untuk ditukar dengan segunung uang kertas. Beberapa lelaki yang memberinya kenikmatan dan keindahan dunia. Namun martabatnya seakan seperti seogok daging segar yang siap disantap siapapun.
Tak hanya itu, dia juga menjual bubuk ketenangan dan sebuah obat pemuas diri. Yang membeli barang dagang dan jasanya tak sembarang orang. Hanya memiliki roda empat dan kekuasaan yang bisa menyewa jasanya. Tak habis pikir bahwa istrinya akan tahu bahwa pasangannya dimabuk nafsu belaka.
Seakan dia yang merajai pasar eksklusif itu dan bayarannya seperti membeli sebuah permata kuning mengkilap. Dia tahu bahwa resiko yang dihadapinya tak sebanding dengan pendapatannya. Dia juga tahu bahwa ia akan dicaci maki keluarga dan orang-orang terdekatnya. Namun, demi masa depan dua buah hatinya dia rela seakan memakan jamu pahitan.
Lambat laun, dia seperti wanita bak sosialita. Tas, perhiasan, mobil dan rumah yang dia miliki begitu mewah dan elegan. Hingga pada suatu saat dia pergi dan berfoto dengan menara yang terkenal di kota romantis. Teman-teman lamanya tak menyangka bahwa dia dulu hanya menjadi pelayan suaminya. Tak banyak yang tahu bahwa ia menjadi simpanan.
Peristiwa pahit pun sudah menjadi asam garam perjuangannya. Dia terkenal menjadi orang ketiga dari sebuah pasangan. Menjadi perusak hubungan rumah tangga. Parasnya yang cantik dan memiliki body ideal siapa lelaki yang tak tergoda. Masa lalu menjadi alasan kedua menjadikannya.
Bertahun-tahun, Rusi semakin kaya dan simpanannya tak terhitung jumlahnya. Hanya dalam waktu yang relatif singkat, dia sudah menjadi orang kaya. Kedua buah hatinya bersekolah diluar negri agar masa depan kedua buah hatinya terjamin. Bermodal penampilan menarik dia bisa mengumpulkan pundi-pundi kekayaannya.
Sampai pada saatnya, ia ditangkap oleh orang berseragam coklat tua dan masuk ke jeruji besi. Kedua buah hatinya hanya pasrah dan menangis memeluk ibunya dibalik dinginnya lantai itu. Merasa jauh dari keluarga, dicemooh orang lain hingga barang-barang berharga nan mewah itu disita.
Stress pun melanda, dan dia hanya bisa pasrah melihat keadaannya sekarang. Orang tuanya dan saudaranya merasa malu dengan perbuatannya itu. Seakan kejatuhan buah tangga, dia divonis mengalami depresi berat dan kehilangan akal sadarnya.
Seakan keanehan perilakunya dijeruji besi, dia dipindahkan ke Pondok Citra Kasih yang tak jauh dari rumah penyesalannya itu. Histeria dalam pikirannya itulah membuat menganggu orang lain sampai dia dibawa di ruang isolasi. Mungkin ini adalah peringatan Tuhan terhadap makhluk yang dianggapNya sempurna.
Kini hanya bisa terdiam dan merenungi nasib Risa itu. Seperti hukum Karma, siapa yang berbuat sesuatu akan dibalas suatu hari nanti. Begitulah nasib Risa, sungguh miris dan pedih. Untungnya kedua buah hatinya sudah dianggap sukses menyetir bahteranya. Mereka juga menjadikan ini menjadi pelajaran yang berharga bagi mereka dan anak cucu esok.

Komentar
Posting Komentar