~Cerpen
My Confusing Love
Ketika aku mengenal cinta, aku merasa hidupku bermakna. Makna yang tak lepas dari hiruk pikuk dunia yang semakin hari semakin rumit untuk dimengerti. Aku tau cinta akan membuatku hidup selayaknya sepasang burung merpati. Tapi beberapa lama akupun mengerti tentang semua hal yang terbaik untukku. Cinta mengajarkanku sebuah pelajaran yang paling berharga...
Aku mempunyai teman, teman ku ini nyebelin. Suka marah-marah gak jelas, terus sering gangguin aku, iseng banget lah pokoknya. Tapi, aku jatuh cinta padanya hehe. Karna apa yang membuat ku mencintainya, yang jelas aku bahagia didekatnya. Kisahku bermula ketika kita satu sekolah di sebuah sekolah menengah di Singapore. Yah, cukup jauh dari kota kelahiranku di Denpasar. Dari umurku 4 tahun, aku sudah pindah ke ngeri tetangga yang luasnya hanya sebuah kota. Orang tuaku bekerjqa di negri ini sejak belum lahir. Entah aku hanya anak satu-satunya di keluarga ini.
Kalau tinggal di Denpasar, hanya kakek dan nenekku disana. They loves bali, because they love paradise begitu kata mereka. Walaupun mereka sudah berumur, tapi semangat mereka untuk berpergian masih kuat hingga pucuk dunia sekalipun. Yah, mereka adalah penjelajah dunia dan akhirnya mereka menetap di pulau “ para dewa” ini. Mereka tergila-gila oleh Bali, walaupun mereka menetap di kota itu. Aku senang bersama mereka disana tapi orangtuaku mengajakku ke negri singa ini untuk bersekolah dengan kualitas terbaik didunia.
Ayahku bernama Eward Giorgino dan Ibuku I Gusti Latfia Agreini. Yah mereka mempunyai suku, ras, agama hingga warna kulit yang berbeda namun mereka mencintai satu sama lain. Nenek dan kakekku menyutujuinya hingga menikah dan mempunyai anak yang namanya Stivie Lavia Giorgino, ya itu aku hehe. Bisa dibilang aku kerturunan campuran antara barat-timur. Hehe jadinya aku cantik seperti ini seperti orang-orang Russian.
Aku bisa bahasa inggris, rusia dan bali. Meskipun aku lahir di Bali, tapi bahasa indonesiaku hanya beberapa yang bisa karena dikeluargaku sering memakai bahasa itu. Jarang sekali aku bebicara bahasa indonesia hingga susah mengatakannya. Ketika aku ke Singapore, banyak orang Indonesia yang satu kelas denganku. Lama-lama aku bisa lancar bahasa indoensia. Tapi pelajaran di sekolah lebih sering menggunakan bahasa inggris untuk pengantarnya.
Oiya, teman “nyebelin” itu satu kelas denganku, namanya Stevam William. Dia orang singapura keturunan barat sepertiku. Tapi hanya berstatus tempat tinggal disini, aku kan di Indonesia dan disini aku hanya menumpang sekolah saja. Sejak aku pundah disini, Stevan selalu satu kelas denganku, entah kenapa teman-temanku sering menghinaku dan menjodohkanku dengan si “ nyebelin” itu. Hingga pada saat itu kami mulai menjalani tes perguruan tinggi.
Entah kenapa sikap dan perilakunya berubah ketika kami mau lulus. Dia lebih bersikap lembut dan baik kepadaku. Didalam hatiku, aku mengira dia hanya berpura-pura baik di depan semua teman-teman sepermainanku. Aku juga curiga dengan perilakunya. Teman-temanku mengitrogasiku karena aku sering memikirkannya. Aku sadar sih karena dia cukup tampan dan perwakan baratnya itu. Aku mulai sadar bahwa aku menyukainya walaupun aku sering membuatku jengkel hingga menangis.
Tak dapat dimengerti, aku menyukainya. Aku pergi ke kuil budha dekat Bugis untuk berdoa disana. Entah bayangan dia tak lepas dari pikiranku sehingga aku tak serius berdoa. Hingga aku tak jadi berdoa disana dan pergi ke kedai kopi dekat itu sendirian. Aku mulai merenung dengan apa yang dipikiranku selama ini. Beberapa tahun aku mulai menumbuhkan perasaan berbeda terhadap nya.
Ketika kami mulai memasuki ruang ujian, dia meliriku denga tatapan tajam dan aneh. Aku sempat salah tingkah dengan kelakuanku. Karena itu, aku tak sempat menghiraukannya dan mulai menjawab soal-soal tes itu. Bel pun berbunyi tanda ujian telah berakhir. Dia masih menatapku, aku mulai risih dengannya hingga aku bergegas pergi ke MRT untuk pulang kerumah dengan perasaan yang aneh.
Stevan pun mengerjarku hingga membelokannya ke sebuah tempat sepi di samping gedung tes itu dan mengitrogasiku. Jatungku berdebar kencang sekali dan beberapa keeringat menetes di dahiku. Dia mengelap keringatku dan mulai kami berbicara satu sama lain. Dia menyatakan bahwa dia mencintaiku sejak awal kami berjumpa saat sekolah menengah itu, tapi dia takut untuk mengungakapkannya.
Aku terdiam perkataannya semacam itu, jatungku semakin berdebar kencang dan tak tahu mengatakan apa. Namun hatiku mengatakan bahwa aku harus menerima cintanya karena aku mencintainya juga. Tapi aku tak berbicara kepadanya dan bergegas lari meninggalkannya kesebuah toilet umum. Sampai disana, aku menangis bahagia di toilet itu. Rasanya sungguh aneh dan hatiku sangat gembira.
Aku bingung harus berbuat apa dan melakukan apa untuk menagtakannya. Sementara ayah dan ibuku menuntutku untuk fokus sekolah dahulu. Entah rasa hatiku tak dapat kuungkapkan dan otakku mentuntutku seperti itu, aku benar-benar tak mengerti. Setelah dari toilet itu, aku bergegas ke MRT untuk pulang ke rumah. Aku hanya bisa merenungi hal ini dan entah dia masih ada disana. Sampai dirumah, aku masuk ke kamar dan menguncinya. Aku bisa memeluk boneka ku dan menenangkan diri.
Malam itu, ponselku berdering karena ada pesan yang masuk. Yang kulihat adalah pesan dari Stevan. Isi dari pesan itu adalah permintaan maaf darinya dengan kejadian tadi siang. Aku tersenyum melihat itu dan hqtiku merasa tenang. Setan apa yang merasuki ku sehingga aku membalasnya dengan penuh perasaan sampai aku mengatakan padanya “ I love you” kepadanya.
Dan setelah membalasnya, aku merasa menyesal dengan kata-kata itu dan tersenyum sendiri. Aku tak menyangka seseorang yang selama ini yang kubenci dan “nyebelin” ternyata aku jatuh cinta. Aku membuka laptop lamaku. Masih ada foto aku dengannya bersama kawan-kawan sebaya juga. Ketika itu, dia juga menjahiliku dengan menjatuhkanku dekat kolam renang dan tak tau bahwa itu lumayan dalam bagi remaja saat itu. Aku tenggelam dan dia menyelamatku. Teman-temanku menyoraki ku saat itu dan aku pergi dengan keadaan malu.
5 hari setelah ujian tes masuk universitas, aku tak masuk ke universitas harapanku di Singapore. Aku bergegas pulang ke rumah menemui orangtuaku. Aku hanya bisa pasrah dengan hasil tes itu, aku pun berpikir untuk kerja atau ke rumah kakek dan nenek. Ibu dan ayahku hanya memberi motivasi kepadaku untuk pantang menyerah. Ayahku memberiku brosur sekolah masak karena aku aku mempunyai hobi makan yang mumpuni hehe.
Saat memasuki kamar, ponselku berbunyi dan Stevan mengiri aku sebuah pesan. Dia sangat rindu denganku karena dirumahnya tak ada yang diganggu. Aku tersenyum sendiri dan hatiku “aneh” lagi. Dia juga menanyakan kepadaku bahwa aku berhasil lolos ke unuversitas itu. Tentu aku menjawabnya dengan emot sedih karena aku tak berhasil lolos. Aku juga menceritakan bahwa aku akan sekolah masak dinegara ini.
Dia membalas pesanku bahwa dia juga tak lolos ujian itu dan mencari universitas “ kelas dua” di Singapore. Ayah dan ibunya membujuknya untuk kembali ke London untuk sekolah disana. Akan tetapi, dia masih membujukku untuk menerima cintanya. Aku tak mengerti dia belum menyerah denganku. Aku senyum-senyum sendiri sehingga ibuku pun mengagetkanku.
Aku menceritakan semua kepada ibu. Aku tak mengerti tentang perasaanku. Aku bingung, gundah, dan bahagia rasanya seperti makan es krim taro yang dijual di “ Uncle” depan apartement kami. Ibu mengatakan aku harus menemuinya dan menjelaskan semua perasaan ku. Ibu juga memberiku saran agar dia mengunjungi rumah. Aku terkejut dengan saran ibuku. Ketika aku menghubungi dia, aku bingung harus mengirim pesan apa. Dan aku mulai mengetik pesan kepadanya untuk mengajak makan bersama di dekat orcard road. Aku sempat ragu dengan pesanku terhadapnya, dia pun tak membalaskan pesanku.
Keesokan harinya, dia setuju untuk makan bersama dengannya. aku bergegas ganti baju untuk bertemu dengannya di restoran itu. Aku memakai baju seadanya. Aku tak mengerti aku bisa segugup ini. Ketika aku sudah tiba di restoran itu, dia sudah disana dengan menyapaku, juga memakai pakaian rapi yang jelas berbeda denganku. Kami memakan beberapa makanan khas Thailand yang menggugah selerku. Ini adalah makanan favoritku ketika umur ku 5 tahun.
Entah kenapa dia tahu makanan favoritku yang jelas aku suka sekali dan enak makanannya hehe. Dia hanya tersenyum melihatku makan seperti itu. Aku salah tinggah dibuatnya heuheu. Namun dalam hatiku tak menyangka bahwa menyukainya. Tapi entahlah aku gengsi kalau aku mencintainya. Seperti makan biasa, kami hanya mengobrol masalah mencari sekolah lanjutan kami setelah menengah ini. Setelah kami mengobrol lama, dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke London bersama orang tuanya.
Beberapa tahun berikutnya, aku sudah masuk disebuah sekolah masak di negara ini. Ya bisa dibilang cukup mahal daripada sekolah universitas baik favorit maupun nomer “dua” setelahnya. Aku hanya menyangka dia mungkin sudah menemukan sekolah favorit di negeri “jam Bigband” itu. Hari itu adalah hari terakhirku bersamanya sebelum dia pergi. Aku tau kami hanya teman biasa dan taka da kejelasan bahwa kami berpacaran.
Semakin lama, aku tak mengerti dengan perasanku ini. Sungguh rindu aku kepadanya. Dia sosok ora ng yang romantis dan humoris. Kedua hal itu menjadikannya unik daripada cowok-cowok lain yang mendekatiku. Hanya memandangi foto profile nya di media sosial, dia semakin tampan menurutku sehingga aku terseyum sendiri ketika melamun saat salah satu temanku presentasi didepan guru-guru masak. Orang-orang melihatku denga tatapan aneh ketika tertawa membayangkan 7 tahun lalu, dia masuk keselokan sekolah pada jam istirahat.
Aku tersadar bahwa sikapku mengangggu presentasi orang lain. Saat giliranku, aku mempresentasikan hasil masakanku dengan lancar. Sungguh tegang rasanya namun aku selalu merindukannya. Aku melihat ponselku dan ingin mengirimi pesan kepadanya. Entah rasa ego dan gengsiku menuncak ke otakku dan berkahir tak mengirimi pesan. Beberapa saat aku iseng ingin menelponnya tapi dia tak menjawab telfonku. Aku sadar atas apa yang telah terjadi dengan keputusanku ini. Aku harus menerima jika dia tak lagi menegejarku lagi. Rasa ini yang tak pernah hilang dari hatiku yang terdalam.
Ketika aku berjalan-jalan dengan teman-teman ku di Merlion Park, ada seseorang yang memanggilku dari belakang. Aku tau dengan ciri khas suara itu, entah aku mendengar suara Stevan. Ternayat benar, dia menyapaku didepan teman-temanku. Tapi dia membawa seorang cewek yang sangat cantik. Batinku dia adalah teman dekat Stevan.
Kami sempat berbincang lama, dan teman-temanku meninggalkanku karena harus pulang ke rumah masing-masing, hanya tinggal kami bertiga saja. Mereka berdua terhilat akrab satu sama lain. Hatiku berkata bahwa mereka menjalin hubungan yang sangat dekat. Aku tak suka karena dia terlalu dekat dengan Stevan. Tapi aku sadar kami hanya sebatas teman masa kecil dan tak punya kuasa atas dirinya.
Akhirnya kami pulang ke rumah, tapi hatiku semakin penasaran dengan cewek disampingnya itu. Menurutku mereka berdua sangat cocok satu sama lain. Dia sosok yang “humble” dan kalem, berbeda sekali denganku pada batinku. Saat dikamar aku merasa seperti marah, entak aku tak suka saja dengan hubungan mereka. Saat berkenalan namanya adalah Rusell.
Hari demi hari, aku sering bertemu dengannya di Merlion Park. Entah dengan cewek itu atau bersama teman-teman gengnya. Aku suka sekali taman ini karena setiap aku pulang sekolah masak selalu melewatinya ketika naik MRT. Dia selalu menyapaku dengan ramah walaupun aku tak memberinya kepastian. Antara sedih dan bingung rasanya harus berbuat apa.
Semakin mendekati hari ultahku yang ke 20 tahun, aku tak menyangka bahwa semakin tua umurku. Aku merencakan akan membuat pesta ultahku disebuah restoran di Jurong. Selain harganya sedikit murah, tapi kualitas makanannya enak. Tapj ayahku tak setuju dengan rencanaku ini karena orangtuaku hendak pergi ke Bali untuk mengunjungi kakek dan nenek di Bali dalam waktu dekat.
Ya mau bagaimana lagi, cukup lama kami tak mengunjungi mereka disana. Sebenarnya aku mau mengundang orang sangat spesial adalah Stevan. Entah hatiku senang dengan menginagt namanya. Aku pun segera mengambil ponselku untuk melampiaskan rasa rinduku terhadapnya. Setelah beberapa kali aku telfon, tak ada jawaban darinya. Aku sempat berasumsi bahwa nomer ponselnyanya sudah ganti denga nomer baru.
Aku pun ganti baju untuk pergi dari apartemen ini. Aku hanya menuruti kata hatiku saja dan segera menaiki MRT. Tak ajelas aku mau kemana tapi aku melihat rute MRT ini mengarah ke Merlion Park. Sepanjang perjalanan, aku membayangkan Stevan masih berada disana dan mengatakan perasaan ku kepadanya. Hingga tiba di taman. Aku tak melihatnya sampai menjelang tengah malam. Aku masih berharap dia masih ada disana mengelilingi taman itu. Aku mulai lelah dan kembali ke “ kandang”. Setiap aku pulang dari sekolah, aku selalu melilingi taman itu untuk menunggunya.
Aku sadar bahwa aku menggantungkan perasaannya dan menaruh haparan. Yah setiap hari aku masih menunggu dirinya yang dihalaui perasaan yang tak kunjung ia dapatkan. Pada sore itu, aku seperti biasa mengelilingi area itu dan duduk sambil ditemani sepotong eskrim “uncle” itu. Tak kusangka, seseorang mendekap mataku dari belakang. Aku kira diculik seseorang dan berusaha melepaskan kedua tangan itu.
Aku terkejut melihatnya dan dia adalah Stevan. Tanpa pikir panjang aku langsung menciumnya dan membuat dia terkejut. aku merasa hatiku tenang dan lega rasanya. Rasa yang mulai muncul dari hatiku yang paling dalam dan mendendamnnya berbulan-bulan mulai tersalurkan. Dia juga memelukku dan menerima perasaanku yang labil itu.
Mulai di sore itu di Merlion, aku sudah resmi menjadi kekasih Steavan. Kau tau bahwa kebingungan perasaanku pun mulai diluruskan olehnya. Aku mencintainya seaakan tak pernah ada alasan untuk itu. Kisah cintaku tak sampai disini, mungkin dia akan melamarku untuk menikahaiku suatu hari.
Selesai

Komentar
Posting Komentar