~Cerpen
Gara-Gara Sebuah Kata
Lidah sudah ditakdirkan tidak memiliki tulang, maka dari itu lisan kita menjadi mudah mengatakan sebuah kata atau kalimat jadi kita dapat berbicara. Namun, terkadang lisan kita bisa menyakiti orang lain tanpa bersentuhan fisik. “Ucapan mu adalah harimau mu” itu adalah peribahasa yang umum bagi semua orang. Yah semua orang tau itu. Tapi, makna dari peribahasa itu sangat dalam, maksudnya ucapan seseorang bisa seperti harimau yang bisa menyerang siapa saja dan menyakiti perasaannya.
Seringkali, orang tidak sadar akan hal itu. Cuma beberapa orang saja yang mengakui kesalahan yang diperbuatnya. Bahkan, ada orang yang menyesal gara-gara sebuah perkataan. Seperti kisahku, aku adalah seorang ibu yang memiliki seorang anak perempuan yang sudah memasuki masa peralihan dari anak-anak ke dewasa.
Aku menanti anak ku kurang lebih selama 8 tahun dari usaha pernikahan ku dengan Alwi, suamiku. Yah terlalu lama buat kami untuk menanti seorang anak umtuk sebuah keluarga baru. Suamiku mengidap kelainan pada prostatnya yang menimbulkan tidak sempurnanya pembuahan sel spermanya. Aku tak mengerti, bahwa penyakit itu bisa menyerang siapapun yang disebabkan perilaku masa mudanya yang kecanduan narkoba.
Namun, suamiku bertekat sembuh dari candunya untuk diriku. Dan dia pun tobat dan mencari pekerjaan tetap. Dia sangat sayang kepada ku hingga perjuangannya mati-matian hingga mengobati candunya itu.Cobaan dan ujian pun kita lewati dan akhirnya Tuhan menitipkan sebuah malaikat kecilnya untuk kami dan kami pun sangat berbahagia. Kami pun memberinya nama Angel Chatriel.
Beberapa waktu berlalu, anak kami tumbuh dan berkembanga menjadi gadis cantik yang cerdas. Ia sering juara 3 besar pada saat menerima rapot dari gurunya. Aku sungguh bangga dengan karena kerja kerasnya membuahkan hasil. Setiap hari ia selalu belajar, belajar dan belajr sampai hingga larut malam. Saat menjelang ujian, ia selalu belajar lebih banyak dari teman-teman seusia nya.
Lantas, kami berdua menyemangati nya dan memberikannya hadiah bahwa ia sudah membanggakan kami. Saat SD, ia ingin bercita-cita menjadi seorang model profesional. Yah, gambar yang dibuatnya ditempel di dinding kamarnya dan selalu merenungkan hal itu. Aku sebagai ibu selalu mendukung anakku yang paling berharga didunia ini.
Aku sadar jika suamiku tak berubah seperti itu, maka kami takkan mempunyai anak secara normal. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan akan karuniaNya untuk menitipkan malaikat kecilnya kepada kami. Tak hanya cerdas pada bidang akademik, ia juga memenangkan lomba lari yang diadakan oleh walikota dan ia juara 1. Aku sangat bangga menjadi ibu karena anak ku yang kusayangi telah berhasil membuat kami bahagia. Saat dia SMA, suatu kejadian yang tak bakal aku lupakan seumur hidupku.
Ketika itu, anakku pergi dengan teman-temannya entah kutunggu belum pulang ke rumah. Jam 11.30 tepat, aku sempat khawatir dengannya. Aku mecoba telefon tapi tidak diangkat. Aku coba melelpon teman karibnya disekolah ia pun tidak tahu. Suami ku pun cemas dengan anak itu dan berprasangka buruk terhadapnya. Waktu menunjukkan pukul 11.45, dia akhirnya datang dengan polosnya. Aku ingin marah kepadanya tapi suamiku memberitahu dia terlebih dahulu dengan sabar. Entah kenapa suamiku sangat sabar menghadapinya. Dia akhirnya mengaku bahwa ia jalan-jalan ke mall bersama teman-temannya. Aku pun sontak memberitahunya dengan sedikit keras.
Malam pun berlalu, akupun tidak bisa tidur karena anak yang ku sayangi telah berbuat di luar peraturanku bahwa ia jam sembilan malam ia harus ada dirumah. Ingin sekali aku memarahinya entah kenapa hatiku menahan amarah itu. Suamiku berkata kalau masa-masa itu adalah masa mencari jati diri. Tapi masa mudaku tak seperti itu, masa muda ku untuk belajar dan belajar untuk mencapai apa yang aku inginkan.
Entah kenapa, suamiku begitu bijak dengan masalah seperti itu dan bilang kepadaku bahwa ia akan baik-baik saja. Tapi, tetap saja aku tak bisa tidur dengan perilaku anakku. Mungkin anakku ingin mencari jati dirinya dan mungkin berbeda dengan masa ku dulu, pikirkku. Akhrinya aku memaafkannya.
Beberapa bulan berlalu, anakku selalu pulang malam. Entah kenapa jiwaku ini ingin melampiaskan kemarahanku pada anakku. Ayahnya selalu membelanya dan mendukungnya. Aku tak tahu apa aktivitas anakku dan ada apa dengannua. Sejak ia sudah pubertas, ia sudah berubah bukan anak kecil lagi. Atau gara-gara aku yang terlalu kaku dan tak mengikuti perkembangan zaman.
Mungkin juga, anakku sering dekat dengan ayahnya. Entah mereka sangat akrab sekali seperti teman dekatnya. Namun tak sama seperti aku, ia mungkin menganggapnya sebagai seorang ibu tak seperti ia ke ayahnya. Aku tau bahwa seorang anak perempuan selalu dekat dengan ayahnya. Dan mungkin aku terlalu sibuk dengan usahaku walaupun aku dirumah dengannya.
Hari berganti hari, entah kenapa bibirku ingin berbicara dengan anakku. Tapi ia berusaha menghindari perkataan yang mendalam seperti ia selalu pulang larut malam. Tapi, aku sangat ingin tau kondisi dan aktivitasnya saat ini. Suamiku memberitahuku bahwa ia mengerjakan tugas dirumah temannya dan beberapa akhir ini ia sering dapat pekerjaan rumah yang cukup berat.
Aku terheran dengan perkataan suamiku itu. Aku tidak percaya akan hal itu bahwa bisa saja anak itu berbohong. Suamiku tetap percaya kepadanya dan aku pu ragu akan hal itu. Aku takut ketika anak satu-satunya terjadi hal-hal biuruk yang mengancam masa depannya. Mungkin ini rasanya jadi seorang ibu yang selalu menghawatirkan anaknya.
Hari-hari berlalu, aku tak kuat dengan rasa ingin tahuku dengan anakku. Ketika ia pulang, aku mulai menakannya kenapa ia sering pulang malam. Tapi ia seperti cuek kepadaku dan tak membalas pertanyataan ku. Padahal nada suaraku sudah aku pelankan dan pada dasarnya aku mempunyai suara yang cukup keras dari kecil. Entahlah, mugkin waktunya tidak tepat.
Pada saat penerimaan hasil belajar, aku dan anakku ke sekolah untuk mengambil rapotnya. Raut muka anakku mulai tegang dan berkeringat dingin. Aku mulai curiga denggannya. Ketika kami berada di ruang kelas, anakku pun tampak cemas sekali dengan hasil rapotnya. Ruang kelas saat itu pun masib sepi dan ada wali kelas anakku.
Guru itu berkata kepada ku jika anakku sering tidur dikelas dan tidak mendengarkan guru menerangkan dikelas. Aku sontak terkejut menderngarnya karena anakku tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Dan dia bilang nilainya menurun dari sebelumnya. Aku sungguh kecewa akan hal itu dan melihat anakku. Dia hanya menundukkan kepalanya sementara aku yang keweca dengannya. Tapi aku berusaha tak menonjolkan emosi ku kepadanya. Setelah dirumah, ia hanya diam saja dan aku menanyakan kepadanya dia bilang baik-baik saja.
Aku pun penasaran dengan anakku, ia mungkin mempunyai masalah yang rumit dan tak tau caranya bercerita. Beberqpa asumsi ku tentangnya banyak sekali yang ingin kutahu. Aku pun bercerita ke suami ku bahwa anakku sering tidur dikelas yang menyebabkan nilai rapotnya turun. Suamiku terkejut, tapi ia selalu memberikan solusi bijak untukku dan mencoba bertanya kepada anak itu.
Aku mencoba untuk pergi ke kamarnya malam itu, kondisinya tertata rapi dan tampak seperti biasanya. Hanya beberapa buku pelajaran yang berserakan dan novel. Mungkin habis baca buku, batinku. Ketika melihat piala yang ia dapat semasa kecil nya. Mulai dari lomba cerdas cermat, lomba lari hingga juara kelas. Andai saja dia seperti yang dulu maka takkan terjadi seperti ini. Beberapa foto keluarga kecil kita terpamapang di kamarnya ketika ia masih umur 9 tahun. Aku pun kembali ke kamar untuk tidur. Entah kenaoa pikirkanku masih bertanya-tanya dengan anak itu. Asumsi ku membuatku semakin ingi tahu ada apa dengan dia.
Berbulan-bulan berikutnya, aku pun bosan dengan kondisinya saati ini. Sering pulang malam, selalu menghindariku dan beberapa terlihat murung. Namun, suatu hari kedatangan tamu seorang cowok yang manis. Entahlah, suami ku yang menemuinya. Berbincang-bincang cukup lama dan kulihat membahas persoalan yang serius. Ternyata ia adalah mantan pacar dari anakku. Terlihat dari sikap dan perilakunya yang sopan bahwa ia memiliki niat yang baik. Mimik muka suamiku pun tegang karenanya.
Aku pun mendekati mereka. Cowok itu memberikan senyuman dan salam kepadaku. Sangat sopan sekali anak itu dan jarang ditemukan pada masa sekarang, pikirku. Saat itu, ia bercerita tentang kondisi anakku. Ia berkata bahwa saat ini dia menghindar darinya dan menelpon yang tak pernah diangkatnya. Dan dia selalu sendirian dan terlihat murung saat disekolah. Saat bertemu pun, tak pernah disapanya. Kami pun terkejut dan tidak menyangka bahwa anakku mungkin masalah yang tak mau disampaikan. Kami sangat berterima kasih atas kehadirannya di rumah ini dan rasa ingi tahuku mulai terjawab. Beberapa jam kemudian, cowok itu pun pulang dengan perasaan lega.
Kami pun berdiskusi akan perilaku anakku yang seringkali membuat kami resah. Akhirnya kami menunggu sampai anak kami pulang. Setelah malam berlalu, anak kami pun pulang dengan kondisi yang memperhatinkan. Entah kenapa aku marah melihatnnya. Kata-kata dari mulutku pun somtak seketika. Kasar, dan menyakitkan ucapan yang tak pernah kuluapkan sebelumnya. Suami ku pu terkejut mendengarnya, apa lagi bicara dengan orang terdekatnya.
Aku tak kuat lagi dengan sikapnya yang tak terbuka padaku dan suamiku. Anakku serasa orang lain bagiku. Anak itu menangis dengan kerasnya dan langsung berlari ke kamarnya. Suami ku pun memberi tahu kepadaku bahwa ia sedang lelah mungkin dengan kegiatannya tapi menurutnya diriku terlalu posesif dan tak mengerti kondisi situasi anak kami. Di otak ku sering kali berasumsi bahwa ia menyembunyikan sesuatu dari ku maupun ayahnhya, bahkan kadang aku tak bisa tidur dengan nyenyak gara-gara perilakunya. Aku ingin anak ku yang dulu, dia anak yang periang dan memiliki banyak prestasi. Namun sekarang dia berbalik arah dengan sikapnya yang cuek itu.
Aku sempat berdebat dengan suamiku. Sebagai ibu, tentunya aku harus tau setiap permasalahan keluarga seperti perilaku anakku. Namun suamiku berpendapat bahwa ia sudah besar dan sudah mengerti akan tanggung jawab, juga konskuensi jika ia melakukan sesuatu. Perdebatan kami pun panjang. Sampai tak tau harus bagaimana dan tak berpikir tetangga seperti apa nantinya.
Sampai malam berlalu, pintu kamar anakku tertutup dan tanapa suara. Untuk itu kami mengecek kamarnya. Aku mengetuk pintunya tanpa adanya jawaban darinya. Sudah beberapa kali aku mencobanya dan tetap saja hasilnya. Suamiku akhirnya mendobrak pintunya dan melihat anakku yang tadinya ia tidur dan ia terbanguna dengan kagetnya. Suamiku pun meminta maaf kepadanya dan memeluknya.
Entah kenapa aku tak seperti itu, aku tidak terima perilaku anakku saat dan memilih untuk dingin kepadanya, hanya dengan senyuman. Anakku pun menangis di bahu suamiku akan kegagetannya. Setelah ayahnya menanyakan masalahnya, ia hanya mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Aku tak sempat berkomentar akan hal itu tapi aku berusaha untuk seperti biasa.
Beberapa hari kemudian, ia mengulangi pulang malamnya. Aku khawatir akan dirinya. Sebagai ibu, aku tak terima dengan perilakunya. Suamiku hari ini telat pulang karena ia mengerjakan sesuatu yang belum selesai. Dan aku sendirian dirumah. Entah aku lelah menunggu hingga aku ketiduran di sofa ruang tamu. Aku pun tertidur di sofa itu. Akhrinya suamiku pun pulang terlebih dulu. Entah kenapa anakku sangat menjengkelkan. Dan juga aku sangat khawatir kepadanya walaupun sikapku sangat dingin kepadanya.
Saat itu, ia pulang dengan membuka pintu akupun memarahinya. Enrtahlah semua kebusukan dan kelakuaanyapun aku utarakan dengan kasar. Membentak dan kasar itu pun memberinya pukulan yang sangat kepadanya. Aku tak bisa mengontrol diriku. Entah apa yang aku utarakan dan tak terpikir olehku. Ia hanya bisa menunduk dan menangis tersedu-sedu. Tak lama kemudian ia berlari menuju ke kamarnya.
Suamiku pun terbangun dari tidurnya sontak terkejut melihat aku. Dia juga memarahiku karena aku memarahi anak satu-satunya. Dia tak rela dengan sikap dan perilaku ku yang terjadi saat ini. Entah beberapa lama, timbul bunyi jeritan didalam kamar. Aku pun berlari dari ruang tamu hingga ke kamar Angel. Pintu kamarnya yang terkunci rapat dan tak bisa dibuka secara paksa. Suamiku pun mendobrak kamar itu dan terbuka. Ketika terbuka, aku melihat anakku terpapar di kasur dengan banyak darah. Ia membunuh dirinya sendiri dengan menyabetkan pisau ke tangannya.
Aku shock, sedih, menyesal karena diriku. Aku memeluknya dengan keadaan tidak benyawa dan menangis di tubuhnya. Suamiku menangis dengan kerasnya. Aku tak bisa berkata apa-apa hanya bisa menangis. Aku pun segera menelpon petugas permakaman untuk mengubur anak satu-satunya itu. Penyesalan dan rasa kecewa yang tertuang dalam hatiku saati itu. Tapi disudut ranjangnya, terdapaat sebauh botol yang memiliki bentuk yang aneh. Memiliki sedotan dan berbau sangat menyengat. Suamiku pun mengambilnya dan berkata itu adalah “Sabu-Sabu”. Kami pun terkerjut akan hal itu bahwa aku menggangap bahwa anakku mengkonsumsinya. Aku tak menyangka dengan hal itu bahwa anakku telah terjebak dengan hal-hal negatif. Pertanyaan dan asumsi dikepalaku pun sudah menemukan jawabannya.
Aku tak menyangka dengan perilakuku itu. Aku sangat menyesalkan bahwa mengapa ia menggunakan hal itu. Suamiku terkejut karena ia sudah mencobanya lebih dulu daripada anakku dan sudah kecanduan lalu bertobat ke jalan yang benar. Ketika petugas pemakaman datang, aku dan suamiku mengendongnya ke ambulans untuk otopsi. Kami pun ikut ke rumah sakit tedekat. Kami hanya menahan tangis dan kesediahan yang mendalam.
Saat pada ditempatkan di peti mati, aku pun tak kuasa menahan tangs. Ayahnya sampai pingsan tak menyangka anaknya seperti itu. Aku sangat menyesal dengan semua yang terjadi. Semua gara-gara kata dari mulutku. Aku jahat bahkan sangat jahat. Ini pelajaran bagi ku dan kita berdua agar menjaga kata yang keluar dari mulut kita.
Selesai.

Komentar
Posting Komentar