~ My Hoping Dreams




Berawal dari sebuah mimpi

Aku pernah bercita-cita menjadi seorang dokter nanti. Yah, cita-cita kecilku, aku tak menyangka mimpiku setinggi langit. ketika aku duduk dibangku Taman kanak-kanak aku mengagumi seroang dokter. Ia merawat dan mengobati orang sakit. Simple but make a big effect for another. Aku tau, cita-citaku hanya impian impian masa kecil yang indah tapi dunia terus berputar dan nasib akan bergantian.
Aku pun tau bahwa nilai ku tidak cocok dengan kriteria seperti bayangan orang-orang bahwa menjadi seorang dokter harus pintar dan mendapatkan nilai yang bagus di pelajaran. Nampaknya aku pu memikirkan hal itu. Lambat laun aku sadar bahwa menjadi seorang dokter harus memiliki IQ yang lumayan pintar dan biaya yang cukup mahal. Ditambah lagi ketika ingin melanjutkan sekolah lagi.
Kakak ku Hannah adalah seorang yang pintar dan cerdik. Tidak sama seperti aku dengan kondisi saat ini. Dia memiliki skill komunikasi yang hebat dan pengetahuan yang luas sehingga dia memiliki pergaulan yang luas dari teman sekolah hingga teman organisasinya.
Kakakku mengatakan bahwa nasib seseorang tidak ditentukan bukan dari seberapa orang itu pintar dan bukan siapa orang itu dilahirkan namun cita-cita tercapai karena kerja keras dan usaha yang mereka kerjakan.
Aku [un terkejut mendengar perkataan kakak seperti itu, dan tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku juga teringat pada guruku, ketika itu banyak dari teman-temanku yang bosan akan pelajarannya. Akupun sama ketika guru menjelaskan aku lebih mencorat-coret buku belakangku. Akhrinya ia menyalakan Lcd proyektor dan akan menyetel sebuah film.
Teman-temanku pun sontak terkejut akan hal itu dan penasaran video apa yang diputarnya. Video itu awalnya menceritakan sebuah anak kecil yang tuli. Artinya ia tidak bisa melihat dan mendengar. Aku pun terheran dengan apa yang terjadi di video itu. Apa ada dillahrikan seperti itu? Batinku.
Semenit berlalu, anak itu tidak bisa membaca, menulis maupun mendengarkan. Orang tuanya pun sedih melihat anaknya seperti itu dan menyerah bahwa anak itu tidak memiliki bakat apa-apa. Mereka sudah berusaha mencari guru terbaik untuk anaknya yang istimewa itu, namun tidak ada satupun yang berhasil.
Disisi lain, anak itu mempunyai bakat yang luar biasa yang tak pernah diperkirakan sebelumnya, bermain biola. Anak itu menemukan biola di sekitar lemari kamarnya dan mencobanya. Tidak mungkin seorang anak tuli memainkan biola, batinku.
Tapi anak itu terus mencobanya setiap hari. Kegagalan tak pernah ia lewati setiap harinya sehingga orangtuanya mendengar gesekan demi gesekan biola itu. Ibunya menangis bahagia mendengar anaknya memainkan biola walaupun nada yang digeseknya menyengir ditelinga.
Lalu, ibunya mencarikan seorang yang bisa mengajarkan biola. Namun tak mudah untuk mecari guru yang tepat. Beberapa hari kemudian, sang ibu menemukan pengamen jalanan yang pintar memainkan biola dan ibunya pun menawarkan hal itu.

Sang pengamen jalanan itu dibawanya ke rumahnya. Ia sontak shock karena yang diajarkan seorang anak yang tuli dan buta. Tapi sang pengamen itu tidak menyerah dengan keaadaan anak itu. Ia mengajari anak itu dengan sabar dan telaten dan anak itu nyaman dengannya. Hari demi hari, anak itu pun mahir bermain biola nya. Nada nya seperti sebuah lagi klasik yang menyenangkan hati siapapun yang mendengarnya.
Pada suatu hari, mentor biolanya itu menawarkan lomba biola disebuah gedung teater yang terkenal di kotanya. Anak itu sangat senang akan hal itu dan ingin ikut pada lomba tersebut. Namun, orangtuanya menolak karena mereka khawatir anaknya akan menjdi bahan “olok-olok” orang-orang pada lomba itu. Tapi mentor itu bersikukuh bahwa dengan ikut dan jika memenangkan lomba itu anaknya bisa dikenal oleh banyak orang, tentu mereka akan mengapresikannya.
Akhirnya, orangtuanya mengizinkan untuk ikut lomba itu. Saat di perlombaan, anak itu bermain dengan sangat rapi dan membuat orang lain takjub bahwa lagu yang dimainkanya memiliki nada yang indah. Pengumuman lomba akan segera dimulai. Sang mentor menyemangati anak itu agar selalu semangat apapun hasilnya.
Pada pengumuman juara satu, nama anak itu menjadi seorang juara. Sang mentor terkejut akan hal itu. Tapi anak itu terharu dan meneteskan air matanya ketika dipanggil di atas panggung teater. Dia memeluk sang mentor sebagai ucapan terima kasih atas pengajarannya saat ini. Orangtuanya pun bangga dan menangis bahagia karena anaknya memiliki bakat yang luar biasa.
Aku pun terharu melihatnya dan sempat meneteskan air mataku, begitu dengan temanku yang lain hingga sampai tersedu-sedu. Aku termotivasi akan hal itu bahwa setiap usaha dan kerja keras pasti mendapat hasil pada saat waktunya nanti.
Aku tersadar bahwa setiap manusia mempunyai kelebihan dari dirinya dan kelemahannya menjadi bakat yang luar biasa. Aku berjanji dengan diriku sendiri, aku akan belajar dengan giat agar cita-citaku menjadi seorang dokter tercapai.
Disamping itu, aku punya orang-orang yang menyayangiku dan selalu mendukungku. Papa, mama, kakak, guru dan teman-teman yang ku yang kucintai akn bersedia membantuku.
Sekarang, mimpi ku terwujud. Aku menjadi seorang dokter umum di sebuah rumah sakit. Pasien senang ketika aku mengobatin beberapa penyakit mereka. Senang rasanya ketika orang lain bahagia jadi aku semangat membantu orang lain lebih banyak lagi.
Kenangan ketika akuy duduk di bangku sekolah takkan pernah ku lupa selama hidupku. Aku akan mencerikakan pengalamanku ke anak dan cucuku nanti.


Selesai



Komentar

Postingan Populer