Semakin Lengket, Semakin Jauh dari Perahu Karet
Tak terkira, peribahasa itu hanya sedekar lelucon dalam benak seorang remaja
Yang berpetualang melewati suramnya hutan belantara
Hingga menyusuri pengunungan dan lembah yang tak tau siapa yang bertahta
Masa remaja, katanya adalah masa-masa yang paling indah dan tak pernah dilupa
Dibutakan dengan kesenanganan sementara, dan merasa sulit ketika masalah kecil melanda
Terdepak pada ilmu pengetahuan, namun sulit untuk direpresentasikan
Dalam makhluk sosial, pastinya ada seseorang yang menemani
Lingkup kecil bukan berarti remeh untuk dimengeerti
Hingga lingkup yang rumit dalam tatanan peradaban saat ini
Masalahnya, kita tak tahu persis dari kepribadian dengan melihat tatapan atau junjungan pada silauan mata
Juga bukan berarti lamanya durasi dengan beraktivitas bersama
Dan bukan berarti atas dasar peduli, namun hati dan pikiran seakan melaju dengan sepi
Itulah jalinan pertemanan,
Tujuan yang pasti bukannya menjadi dasar keberuntungan
Diresapi dan dipahami adalah hak manusia untuk memilih dan dimiliki dengan rasa kebersamaan
Terkadanga, hanya segelintir orang yang tak bisa menjadi air
Terkadang, batu adalah sentaja paling bebahaya untuk menusuk ketika rapuh dan terkilir
Namun dilupakan bahwa, samudra adalah pusat dari misteri yang tak sempat dijelajahi
Hanya menyusuri daratan, yang tak ada ujung yang pas untuk bersembunyi
Lingkar bumi menjadi noda dalam rasa yang terukir dalam hati yang sepi
Sebuah pengaruh akan melanggengkan idealisme yang terpendam
Yang mana sayatan menjadi kunci pada masa depan yang dipresdiksi suram
Tentang adanya banjir kiriman dari tanah yang tersungkal dalam
Entah betapa dahsyatnya banjir, sehingga sang jembatan merah terhapus dari sejarah kelam
Semenjak menyadari hal itu, banyak yang menghindari ada bahaya di bayangan abu-abu
Jarum dalam jerami mungkin perlu dalam mencari sebuah inovasi untuk meluruskan kalbu
Banjir akan datang, tapi perahu karet semakin jauh dan tak bisa berenang
Setidaknya ada cadangan dalam situasi bencana yang kurang berkenan di air yang menggenang
Entah hanya pola pikir yang menyelamatkan, bukannya percaya dengan imajinasi para muka pecundang

Komentar
Posting Komentar