~Cerpen


The Trust of Miracle

Kandas cita-citaku, menjadi sebuah tanda bahwa harus berhenti. Berhenti dari rasa sakit, kegagalan dan beberapa rasa menyedihkan yang luar biasa. Aku tak mengerti dengan semua ini. Muak, kesal, sedih, dan ingin mengakhiri adalah suatu bentuk ketidakpuasan ku yang merana ini.
Kadang aku merasa rindu kebahagiaan, kebahagiaan yang tak pernah ternilai oleh sebuah kertas-kertas yang bertuliskan nominal yang seringkali dipuja layaknya Tuhan. Ayah, ibu yang selalu menemaniku saat sarapan pagi. Canda dan tawa kala itu membuatku ingin hidup abadi.
Yah, mereka bedua adalah orang paling tersayang, hingga sebuah peristiwa pedih menghampiri dan mengubah persepsi dan ambisi. Hanya sebuah kata-kata yang hampa, hilir mudik sosial media dan bisikan-bisikan tetangga akhirnya harus merasakan buruknya rumah tangga.
Suatu seketika, adik laki-lakiku satu-satunya telah pergi dengan membawa sejuta kenangan yang hampa dan seakan merana. Aku tak rela dengan realita bahwa aku harus berjuang tanpa dengannya. Keluarga ku satu-satunya yang kupercaya telah pergi untuk selamanya.
Aku sedih sekali, marah sekali bahkan geram sekali dengan mereka. Ketika ia sakit parah, mereka tak berada disisinya bahkan hingga nafas terakhirnya. Aku berjuang sendiri dengan keringat dan beban ku jalani untuk bisa menyelamatkannya. Tapi, apa yang aku buat serasa sia-sia.
Mereka hanya mementingkan dirinya dengan beragam idealis dan politis yang seakan tak pernah henti beralasan. Aku tak tahu berbuat apa, tapi menurutku Tuhan tak pernah memberikan rahmatnya kepada ku. Tuhan tak adil, Tuhan tak sayang kepadaku, aku benci Tuhan, dalam hatiku.
Dengan beragam kebencian dan amarah pada diriku, seakan aku ingin lari dari berbagai kenyataan yang tak pernah kubauyangkan seperti ini, Hingga ingin ku akhiri kehidupanku ini. Tapi, malaikat Tuhan tak akan pernah tidur seakan memberiku sebuah keajaiban.
Dengan keajaiban itu aku bisa meneruskan pendidikanku yang ambyar tanpa kejelasan. Setelah beberapa waktu, aku mulai kembali ke Tuhan, aku merasa berdosa karena berburuk sangka kepadaNya. Namun hatiku masih dipenuhi kebencian, amarah dan kekecewaan kepada mereka yang ditinggal tanpa kasih sayang.
Aku berhenti, berhenti memikirkan apalagi mengingat mereka dan mulai membuka lembaran baru. Kupikir, itu mudah seperti peri sihir tapi hanya beban dan tanggung jawab yang luar biasa. Semakin hari aku semakin tak tahu harus melakukan hal apa, mungkin aku hanya mempunyai beberapa teman dekat sedekat teha dan gula.
Hari-hari berjalan, keajaiban pun datang untuk kedua kali. Ayah dan ibu menemuiku. Entah aku senang sekali dan aku memeluknya seperti yang dulu. Air mata tak terbendung, rindu pun hilang sudah serta tembok keegoisan pun runtuh. Terima kasih Tuhan, aku percaya keajaiban.

Komentar

Postingan Populer