~Imagine of Sad Story



Ketika Seseorang Tak Bersamaku

Berhari-hari aku merasakan apa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasa ada sebgaian yang hilang dari hidupku. Aku merasa seperti secuil debu yang tak ada rupanya. Namun aku menyesal aku kehilangannya secara paksa itu. Entah mengapa Tuhan tak adil kepadaku. Seseorang itu membuat diriku menjadi orang saat ini dengan kasih sayangnya yang tulus. Seseorang itu sangat spesial karenanya aku berada didunia ini.
Cerita bermula ketika aku masih berumur 5 tahun, dia selalu mengeluh dibagian kepalanya yang selalu dipegangginya . Aku pun bertanya kepadanya sakit apa yang dia rasakan. Dan dia hanya menjawab pertanyaanku dengan senyuman. Aku tau dia menderita sebuah penyakit. Aku tau dengan keadaanya yang kurang sehat itu tapi dia selalu menyembunyikannya.
Masa-masa itu menajdi masa emasku, bermain, bersanda gurau dengan teman-teman dan beberapa barang yang kusukai dibelikan oleh dia. Masa itu menjadi masa yang paling bahagia dan indah dalam hidupku. Setelah aku memasuki sekolah kanak-kanak, beberapa temanku pun satu kelas denganku. Saudara-saudara ku aku adalah anak yang cukup cerdas dan bisa mempelajari dengan cepat.
Disana aku belajar perilaku dan tingkah laku yang baik dan benar. Yah, mungkin aku sedikit kacau dengan perilakuku. Bukan buruk tapi sedikit aneh dengan teman-teman sebayaku. Aku suka permainan dengan membutuhkan bantuan fisik, maksudnya aku senang dengan olahraga seperti sepak bola, basket dan beberapa permainan yang anak laki-laki sukai. Dan beberapa dari teman laki-laki ku lebih akrab dari sesama jenisku.
Bisa dibiolang aku dicap sebagai anak yang “tomboy” menurut teman-temanku. Aku suka menciptakan ide permainan yang berbeda dari yang biasa seperti sepak bola dengan peraturan menggunakan sarung. Teman-teman yang sesama jenisku bisa dibilang bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan temanku adalah laki-laki. Tapi aku mempunyai geng dengan 5 orang namanya Sindy, Elisa, Edo, Raven dan Toby.
Mereka adalah tetanggaku, berada tak jauh dari rumahku yang kutinggali. Namun hanya saja aku lebih sering dengan teman-teman sepak bolaku daripada mereka. Sekarang mereka adalah teman sejatiku. Perilaku ku seperti anak laki-laki pun terbawa sampai ke sekolah hingga saat ini Masih ingat kejadian saat itu, ada anak laki-laki yang sering mengangguku di sekolah dasar.
Namanya Alif, dia adalah seorang anak bandel di kelasku. Tak satupun teman-teman kelasku yang berani melawannya. Suatu ketika aku sudah geram dengan perilakunya. Yang dia lakukan mengambil uang saku semua teman-temanku dan ketika ada yang melawan, dia lalu memukulnya dengan tangannya yang besar itu. Badannya pun lumayan besar dibandingkan dengan teman-teman kelasku.
Entah aku pun muak dengan perilakunya, aku pun menantangnya didepan teman-temanku saat istirahat. Dia pun takut kepadaku meskipun badanku lebih kecil darinya. Aku tahu bahwa aku lelah dengan semua tingkahnya yang menjengkelkan itu. Aku melawannya dengan cara mengejeknya. Dia marah dan mengejarku sampai di tangga turun sekolahku. Ide di otakku pun mulai muncul, cat dekat tangga yang tak terpakai pun aku siramkan kepadanya. Seluruh sekujur tubuhnya sekarang sudah dipenuhi oleh cat tembok itu.
Tapi dia hanya terdiam dan kemudian menangis dengan kerasnya. Aku terkejut dengan itu sampai aku tiba dikelas teman-temanku mempertanyakan itu. Teman-teman kelasku menyoraki ku karena aku berhasil melawan anak “nakal itu”. Entah kenapa aku tak sadar bahwa ia menangis didepan mataku. Kemudian, dia lari ke ruang guru dan mengadu ke guru kelas dengan lumuran cat tembok itu.
Akhirnya aku dipanggil ke kantor dengan wajah senang. Entah kenapa aku sangat puas dengan tingkah ku tadi. Guru ku menanyakan hal itu dan aku jawab dengan tenang, alasannya dia mengambil uang temanku. Akhirnya orangtua kami berdua disuruh untuk datang ke sekolah waktu itu untuk menjelaskan tingkah dan perilakunya di sekolah dengan sebuah surat.
Ketika pulang aku bertemu dengan ayahku dan menyodorkan surat itu kepadanyua. Mimik wajahnya sontak berubah drastis ketika dia hendak selesai membaca laporan kerjanya. Waktu itu, seseorang yang kutunggu datang. Dia adalah ibuku yang sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ayahku memberitahu surat itu dan sontak terkejut mengelus dadanya. Tapi dia hanya tertawa kecil kepadaku dan aku membalasnya dengan senyuman.
Esokmya, aku dan ibuku pergi kesekolah untuk menyelesaikan masalah ku dengan “si besar”, Alif. Sepanjang perjalanan, ibuku hanya senyum melihat anaknya yang sedikit nakal ini. Aku bertanya kepada ibuku bahwa aku akan dimarahi. Dia menjawab bahwa anak seperti diriku memang dalam tahap masa bermain dan kejadian ini adalah wajar.
Ketika ibuku dan ibunya Alif datang juga tak lupa aku dan Alif. Kami bertatapan aneh saat itu tapi ibu kami malah mengobrol dengan asyiknya. Ibu kami tertawa dan kami pun melihatnya dengan lega. Ibu alif dan ibuku malah menjadi akrab karena ibunya adalah juniornya di masa kuliah dulu. Jadi, mereka tak pusing memikirkan itu. Aku tak mengerti dengan kejadian itu, tak pernah aku sempat ber[ikir bahwa kejadian itu menjadi seperti itu.
Hari-haru berlalu, Alif tak lagi merampas atau membuat onar dikelas. Dia berubah semenjak saat itu. Aku pun itu berubah dengan menjadi diam juga. Aku tak mengerti apa yang kurasa. Ketika kejadian itu, aku dan Alif menjadi akrab satu sama lain dan duduk bersebelahan, kejadian itu ketika masih kelas 2. Aku hanya tertawa dengan kejadian itu saat itu.
Saat sekolah menengah, aku dan kelima temanku pun satu kelas denganku karena aku diterima disekolah itu. Melalui ujian tes masuk, aku dan kelima teman sepermainanku bekerjasama untuk masuk sekolah yang bisa dibilang favorit itu. Tapi aku pun berpisah dengan Alif karena dia tak bjsa masuk disekolah itu karena nilai tesnya tak mencukupi untuk masuk disekolah itu.
Aku ingat kata-katanya tentang dia bahwa dia menyukaiku. Aku tak menghiraukannya waktu itu karena kami masih kecil. Aku juga mengganggap dia seperti sahabatku sendiri. Kami selalu bersama hingga kelas 6, teman-teman kami bilang kami sangat cocok untuk menjadi sebuah pasangan. Tapi entahlah aku hanya berpikir positif bahwa kami akan bertemu suatu hari nanti.
Hari-hari ku kulewati dengan geng ku itu. Bersama-sama kami bermain, belajar hingga membuat kenakalan kami bersama. Sungguh pengalaman yang tak pernah pernah kulupa. Aku mendapat prestasi dan pengghargaan, di dalam sekolah maupun dikuar sekolah. Aku tau dengan berkumpul dengan teman-teman terbaikku itu aku bisa meraih cita-cita yang kuimpikan. Ibu dan ayahku sangat bangka denganku karena prestasiku itu, tapi ibuku paling senang ketika aku mendapatkan piala.
Hal yang terkesan ketika itu, aku dan kelima kawanku sedang mengikuti cerdas cermat yang diadakan oleh sebuah universitas. Aku tak mengerti bahwa Toby mendaftarkan lomba itu dan tak ada satupun yang menginginkan lomba itu, termasuk aku. Tapi, Toby memilihku dengan Edo untuk maju ke depan untuk menjadi peserta dan sisanya pendukung.
Sekolahku pun menyutujui bahwa kami ikut lomba cerdas cermat itu. Ketika itu kami masih menduduki kelas semester pertama kelas dua. SMP kami terkenal dengan sekolah favorit tapi anak-anak yang bisa dibilang “ Gangster” oleh beberapa sekolah. Tapi kami berbeda dengan anak-anak lain. Kami punya ide dan kreativitas yang bisa meraih prestasi dan bisa membanggakan sekolah.
Aku tak yakin bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh juri besok dan Edo pun berpikiran sama denganku. Tapi teman-teman kelasku, guruku dan sahabat-sahabat terbaikku menyemangatiku, hingga kami berdua sepakat untuk belajar lebib keras. Ketika malam sebelum hari perlombaan, Ibuku mengunjungi kamarku untuk menyemangatiku. Walalupun dia sangat sibuk, tapi ibuku sangat peduli dengan ku.
Hari perlombaan pun dimulai, aku sempat gugup di belakang panggung dan Edo pun juga begitu. Namun, sahabat-sahabatku tak henti-hentinya menyemangati dan menenangkan kami berdua. Hatiku sangat gundah karena kami melawan sekolah-sekolah lain yang lebih pintar dan hebat daripada kami.
Ketika kami maju keatasa panggung, aku terkejut melihat ibuku bersama sahabat-sahabatku. Edo pun juga tak menyangka ada ibunya juga disana. Entah apa yang direncakan oleh sahabatku itu supaya kami tak “ demam panggung”. pertanyaaan yang kami jawab ternyata banyak yang tepat, akhirnya kami masuk ke babak final. Pertanyaan terakhir pun dimulai, tangan kami sangat dingin waktu itu karena jawaban itu adalah penentu kami juara.
Setelah itu, jawaban kami benar semua dan mendapat juara pertama dikarenakan kami mempunyai nilai tertinggi dari 3 tim itu. Betapa bangganya ibuku, guruku dan sahabat-sahabatku melihatnya. Ibuku menangis bangga karena anaknya mendapatkan juara. Lalu sesudah menerima piala, kami lamgsung menemui mereka di tempat kursi penonton. Ibuku menangis haru ketika aku memeluknya.
Bersama sahabat-sahabatku tercinta, kami menangis bahagia karena kami bisa menganggkat nama sekolah kami. Dan ketika esoknya, kami diberi sejumlah uang dari perlombaan kami kemarin dan sempat di dokumentasi oleh sekolah sebagai bukti siswa berprestasi. Tak lupa, para jurnalis sekolah kami pun mewawancarai kami untuk membuat sebuah berita yang disebarkan di majalah sekolah.
Paling berkesan saat itu bahwa kerja kerasku dan Edo tak sia-sia menjadi seorang siswa “bintang”, bangga menjadi diriku ini. Dan ketika kami mau mendekati ujian, aku memperoleh sebuah surat dari sebuah sekolah menengah atas yang berisi kalau aku bersekolah disana, aku tak bayar apapun alias gratis. Aku tau bahwa saat itu aku masih melanjutkan ujian akhir sekolah. Kelima sahabatku pun mendukumgku tapi aku tak bisa jauh dari mereka. Saat pengumuman lulus, mereka berlima diterima disekolah yang sama denganku.
Aku pun melalukan hal yang sama dengan ketika aku bersekolah di sekolah menengah. Aku mengikuti berbagai organisasi sekolah bahkan aku mengikuti lomba-lomba sampai aku tak ada waktu untuk berdiam diri dirumah. Entah kenapa aku tak suka bermalas-malasan dirumah sampai hari liburku diisi dengan organisasi dan lomba-lomba yang aku ikuti.
Hingga suatu ketika, ibuku mengalami pingsan di kantornya. Ayahku pun terkejut dengan peristiwa itu langsung menjenguknya di rumah sakit dan segera menghubungi ku. Aku terkejut dengan kejadian itu, saat yang sama ada rapat OSIS tapi aku tak menghiraukannya dan langsung buru-buru pergi ke rumah sakit itu. Ayahku sedih dengan keadaan ibu yang seperti itu saat aku tiba di kamar inapnya.
Ayahku sangat setia menemani ibu yang tergeletak di ranjang itu. Aku juga menemani ibu disana. Tapi ibu menolak untuk kudampingi. Ibu tau bahwa aku sangat banyak aktivitas disekolah. Ayah memelukku untuk menguatkan hatiku agar aku bisa menghadapi semua ini dengan sabar. Ibu menderita kekelahan berat karena aktivitas padatnya.
Ibu adalah seorang sosok yang pekerja keras dan tangguh. Ibuku adalah seorang manager sebuah perusahaan konsultan terkemuka dan ayahku adalah karyawan sebuah bank. Gaji ayah dan ibuku berbeda jauh tapi tak ada peterngakaran diantara mereka. Aku berharap mereka bisa menemaniku sampai aku punya pasangan hidup nantinya.
Beberapa bulan kemudian, ibuku sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Tapi tak dizinkan untuk bekerja ke kantornya. Sejak saat itu, aku hampir setiap hari pulang telat karena kesibukanku di sekolah dan ibuku selalu menelponku untuk pulang ke rumah. Aku tak ada firasat apa-apa tentang itu. Ayahku selalu menemani ibu dirumah dan pulang paling cepat.
Suatu hari, aku sedang ada rapat untuk menyelesaikan konflik di organisasiku. Waktu menunjukkan jam 9 malam karena banhyak yang harus dibahas. Ponselku pun bergertar terus menerus dan tak ku hiraukan. Aku pulang duluan karena aku sudah muak dengann konflik ini. Ketika aku pulang, ponselku berdiring berkali-kali. Entah apa masalah yang menerpanya.
Seorang tetanggaku yang menelponku, dan dia mengirimi pesan bahwa ibuku masuk rumah sakit lagi. Aku lalu bergegas menuju ke rumah sakit itu. Jantungku tergedup kencang dan keringat ku menetes sepanjang perjalanan. Aku berdoa kepada Tuhan bahwa ibuku tak terjadi apa-apa. Ketika aku memasuki UGD, ibuku sudah terbaring kritis.
Aku tak sanggup melihatnya, air matakupun tak hentinya menetes. Aku tak berkata-kata lagi dan terus berdoa kepada Tuhan tentang semua ini. Ayahku merangkulku untuk menguatkanku. Dokter itu menyambangi kami dengan penuh wajah sedih. Ibuku menderita kelenjar getah bening dibagian selaput otaknya dan sudah parah sekali. Aku dan ayahku terkejut dengan perkataan dokter itu dan dia mangatakan kami harus ikhlas.
Aku tak henti-hentinya berpikir bahwa aku akan kehilangan seseorang yang kusayang. Ayahku hanya bisa merangkulku bahwa aku harus kuat menhadapinya. Setelah jasadnya dibawa kerumah, aku hanya memandani wajahnya. Menurutku dibalik wajahnya yang penuh senyum, ada sebiah tanggung jawab yang besar. Dia adalah sosok inspirasiku agar aku menjadi seperti ini. Itu adalah kejadian yang paling tak kulupakan selama hidupku.
5 tahun berlalu, aku rindu dengannya. Saat itu adalah hari saat kelulusanku dari universitas. Aku mendapat predikat sebagai lulusan terbaik tahun itu. Ayahku tersenyum melihatku di podium ketikaku mendapatkan sertifikat penghargaan. Tapi ada yang masih kurang karena seseorang itu tak menyaksikanku hari ini. Seseorang yang selalu menyemangatiku dan menjadi panutan hidupku.
Saat dirumah, aku merasa seseorang itu selalu ada di sekeliling rumah. Aku tak mengerti dengan bayangan ku tentangnya. Aku tau dia sudah tiada tapi aku merasa dia selalu dirumah. Setelah 7 hari kepergiannya, ayah menagadakan pengajian. Aku menagis karena dia adalah seseorang yang sangat berjasa bagiku. Entah sampai saat ini, aku sangat rindu dengannya.
Aku tau harus mengikhlaskan tapi kata-katanya yang terucap selalu membekas dihati dan pikiranku. Saat ini, aku sudah memiliki pasangan hidup dan memiliki 2 anak laki-laki. Ayah sangat mencintai cucunya dan begitu juga kami. Tapi ibu selalu dihatiku sampai akhir hayatku.


Selesai




Komentar

Postingan Populer