~Cerpen



My Helping Friend

Semua hari-hari ku terasa berat. Entah kenapa orang tuaku, teman-temanku dan lingkungan sekitarku menganggapku seperti itu. Aku tak seperti orang lain pikirkan, aku serasa berbeda. Kadang aku ingin mengakhiri jalan hidupku yang merana ini. Sudah kuat lagi aku dengan tekanan dan cemooh orang. Tapi ada yang membuatku semangat lagi dan lagi. Dia adqlah teman ku, namanya Seren. Dia sangat cantik dan selalu menyemangati ku ketika aku merasa putus asa. Dia selalu menemaniku setiap hari bahkan sampai menjelang tidur. Aku tak menyangka mendapatkan teman yang baik seperti jtu.
Boneka kesukaanku pun banyak di kamar dan beberapa mainan masak-masakan, ya khusus buat anak cewek. Seren sangat suka sekali boneka anjing dan selalu dipeluknya. Kita selalu berbagi pengalaman tentang apapun. Mungkin aku yang selalu bercerita banyak kepadanya sampai dia mulai sedikit bosan dengan ceritaku. Senang, susah, sedih, bahagia dan keadaan apapun aku selalu bercerita kepadanya. Terkadang dia juga cerita tentang kehidupannya yang lebih merana daripada aku.
Aku tak tau harus cerita ke siapa lagi, mama dan papa ku sibuk bekerja. Kakak laki-laki ku tak pernah dirumah dan bibi selalu mengerjakan urusan dapurnya. Aku sedih tak punya teman satu pun kecuali Seren. Bahkan teman sekolahku tak ada yang menemaniku dan beralih menjauh dariku. Apa aku berbeda dengan orang lain? Apa aku anak pungut? Atau aku tidak normal seperti yang lain? Entah pertqnyaan-pertanyaan itu yang membuat ku depresi dan ingin bunuh diri.
Tapi, sahabatku ini lebih menderita daripadaku. Dia bercerita bahwa dia disiksa menjadi pembantu oleh mama dan papa angkatnya. Entahlah alasan mereka menyiksa sahabatku ini. Aku tak menyangka bahwa mereka setega itu dan tak berperikemanusiaan. Namun, dia tak pernah melihatkan ekspresi sedih kepadaku jadi aku pun gembira bersamanya.
Aku tau aku menyadari bqhwa aku berbeda dengan orang lain. Seperti aku melihat kucing yang berjalan, itu tak pernah memandang seperti hewan tapi seperti teman bagiku dan memiliki jiwa layaknya manusia. Kucing yang tadinya takut dengan manusia, akan tetapi kuvcing itu mendatangiku dan mengeluskan kepalanya kepadaku sama seperti tuan di kucing. Beberapa orang mungkin menggagpku seorang “ Indigo”, tapi menurutku adalah sebuah keahlian alami. Dan aku melihat temanku atau orang-orang terdekatku mungkin dilahirkan sama dengan yang lain.
Dari umurku 5 tahun, aku merasa terjebak dalam diriku sendiri. Mungkin seperti aneh dan bingung. Mungkin dalam masa itu, aku dirasa “aneh” oleh orang lain. Tingkah lakuku kalem dan tak banyak tingkah seperti orang yang sudah dewasa tapi aku sangat suka bermain yang bersentuhan secara fisik seperti bermain “gobaksodor”. dan juga aku sangat suka bermain dengan hewan. Kecoa, kucing, kodok sampai mama dan papaku memarahiku karena mereka menganggap itu kotor. Terkadang aku melihat seseorang sedang tersenyum kepadaku dan aku membalasnya tapi orang lain tak melihatnya.
Keanehanku ini menyebabkan semua teman-teman sebaya ku menjahuiku. Aku dikira anak paling aneh didunia. Teman-teman ku mengolok-olok ku karena perilakuku yang seperti ini. Jadinya aku tak memiliki teman yang akrab seperti anak-anak normal lain. Akan tetapi, aku mudah mengerti akan suatu hal sehingga nilaiku sering dipuji banyak guru. Mama dan papa ku sangat bangga atas pencapaian ku saat itu. Keanehan ku juga, aku sering sendirian tanpa ditemani siapapun kata bibiku dirumah. Aku sering senyum dan tertawa sendiri seperti orang gila. Akhirnya aku dibawa oleh kedua orang tuaku ke psikolog.
Ketika aku sampai disana, rasa takutku dan cemas ku mulai meninggi pada saat aku memasuki masa liburan sekolah. Aku tak tahu apa yang aku lakukan saat itu. Namun, psikolog itu menyamburtku dengan pernuh senyuman ramah. Aku duduk disamping psikolog itu dan kedua orang tuaku mengungguku diluar ruangan itu. Hanya dia dan aku disitu dan dia memberiku sebuah kertas. Kertas itu berisi sebuah gambar dan soal untuk aku kerjakan dalam waktu setengah jam.
Aku bisa mengerjakan soal itu dengan mudah dan percaya diri walalupun aku sempat cemas dan takut. Si psikolog itu terkejut melihatku karena soal tersebut sudah selesai dengan waktu yang relatif singkat. Lalu aku dipersilahkan keluar ruangan dan menemui orang tuaku. Dan saat tes itu aku masih berumur 8 tahun.
Dan beberapa lama sang psikolog itu menemui kami dengan wajah yang kurang sedap dipandang.
Sang psikolog itu mengajak orangtua ku kesebuah ruangan. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku pun ditinggal sendirian di lobby itu. Setelah itu, orang tuaku keluar ruangan tersebut dengan murung dan tampak seperti kecewa. Itu sebuah pukulan yang hebat diriku yang masih polos dan tak berdosa. Hingga sampai dirumah, orang tuaku tampak sama, sama seperti aku disana. Tak berselang lama, mereka bedua masuk kedalam kamar.
Aku pun bingung, kenapa dengan ku? Apa salahku? Aku menderita penyakit? Atau aku mempunyai masalah? Kenapa mereka menyembunyikan ini? Tak tau rasanya pikiranku bertanya terus-menerus hingga menghantui ku sampai beberapa hari tak bisa tidur. Sejak saat itu, orang tuaku menganggapku berbeda seperti biasanya. Sering marah-marah, cuek hingga tak peduli dengan ku. Kakakku pun entah tak pernah mengajariku bermain denganku.  
Bibi ku hanya menyemangatiku setiap ku sarapan pagi. Dia hanya tersenyum melihatku, tak lupa memberi kata-kata yang enak didengar. Aku selalu tersenyum melihatnya dan ucapan terima kasihku kepadanya. Hingga aku sampai ke sekolah menengah atas, bibi ku pun mengulanginya tanpa ada kata bosan. Dia mengatakan  kepadaku tentang kenyataan yang dilihatnya bahwa dia tak melihat siapa-siapa didalam kamar sejak masih sekolah dasar.
Dia hanya memberitahuku saat itu bahwa aku sering bermain dan bertingkah sendiri tanpa bermain dengan siapapun. Aku sontak terkejut dengan pernyataannya. Dia juga mengatakan hal ini tapi dia merasa belum cukup umur untuk mengatakannya kepadaku. Aku seperti bingung dan aneh bahwa selama ini aku merasa dia itu ada dan nyata. Namun, orang-orang sekitarku tak melihatnya seperti aku berteman dengan Seren.

Saat malam itu, aku berpikir bahwa dia adalah teman imajinasiku karena aku mengalami kesepian yang mendalam. Tapi dia menghampiriku dengan senyuman. Dia mengatakan kalau selama ini, dia bukan manusia. Dia adalah teman imajinasiku. Aku hanya menangis dan tak tahu apa yang harus aku lakukan. Lalu, aku lari ke bibi ku dan menangis tersedu-sedu. Dan aku mengatakan kepadanya bahwa dia hanya teman imajinasiku dan tak nyata.
Bibi ku terkejut dengan kedatanganku malam itu, aku memeluknya seperti ibuku sendiri. Saat itu, semua anggota rumah pergi ke rumah saudara, aku dan bibiku yang tidak ikut. Aku mengatakan kepadanya bahwa Seren adalah teman baikku. Dia yang selalu menyemangatiku ketika aku sedang sedih dan putus asa. Dia selalu menghiburku dan menemaniku saat aku kesepian. Dia yang selalu menemaniku belajar pelaran yang tidak ku pahami.
Bibi ku saat itu hanya membalas tangisanku dengan senyuman yang menyejukkan. Hanya balasan yang takkan pernah kulupa. Aku menderita penyakit mental hanya beberapa orang saja yang mengalaminya. Aku mempunyai gangguan tidak membedakan hal yang nyata dan tidak nyata, seperti Indigo. Bibi ku memberitahuku bahwa aku mengalami kejadian itu.
Orang tuaku terutama ayah kandungku, tidak percaya dengan hal itu dan berimbas dengan ketidakpeduliannya terhadapku. Aku menerima semua kenyataan yang dikatakan oleh bibiku. Bibi ku tak kuasa menahan kesedihannya terhadapku yang “ aneh” ini. Dan tak selang beberapa lama, aku pun tertidur dipangkuan bibiku. Bibiku menidurkanku di tempat tidurnya yang sederhana itu dengan penuh perhatian.
Aku bermimpi bahwa aku bertemu dengan Seren yang sedang bermain petak umpet. Aku tertawa dan bahagia seperti tak punya beban sama sekali. Dia pun sama denganku dengan senyum manis di pipi tembemnya. Dia mengatakan kepadaku kalau dia akan terus bersamaku dan menjadi teman selamanya. Aku mengiyakan ucapannya itu.
Aku lalu terbangun pagi itu. Itu adalah hari kelulusanku saat sekolah menegah atas. Kedua orang tuaku hadir saat itu dan betapa terkejutnya aku menjadi lulusan terbaik tahun ini. Aku tak menyangka dengan semangat belajarku, aku bisa menjadi berprestasi. Orang tuaku mengangis haru ketika aku di podium dan diberikan sertifikat dari sekolah ku.
Aku sangat berterima kasih pada semua orang yang mendukungku orang tuaku, bibi ku, guruku dan khususnya untuk teman imajinasiku, Seren. Dia hadir saat itu dengan penuh kebahagiaan yang terlukis di wajahnhya. Mungkin, aku menganggapnya sebagai sahabat bahkan seperti saudara kandungku sendiri. Kesepian bukan penggalang lagi bagiku karena ada seseorang yang membantuku tulus untuk masa depanku.
Hingga aku memasuki perguruan tinggi, aku pun membuka diriku dan mempunyai beberapa teman seperjuangan. Aku tau apa yang harus kulakukan seperti nasehat dari teman imajinasiku. Bahkan dia selalu terbayang dalam pikiranku dan kerinduanku terhadapnya. Kenyataan harus ku hadapi selama hidupku. Aku terus belajar dengan serius dan aktif di sebuah organisasi kampus hingga mendapatkan beberapa banyak penghargaan dari kampus maupun dari luar kampusku.
Sampai lulus dan memakai baju toga universitas, aku mendapatkan penghargaan lagi dengan predikat “Cumlaude”. Ibu dan ayah terharu dan bangga mempunyai anak sepertiku didalam usia senjanya. Kakak ku pun menikah setelah sehari acara kelulusanku. Dan disaat itupun aku ditelfon oleh perusahaan bahwa aku diterima kerja diperusahaannya.
Aku menangis terharu dengan semua itu. Kerja kerasku dan doa yang setiap hari ku panjatkan berakhir dengan indah. Tuhan selalu menyayangiku setiap saat, batinku. Hadih ini tak luput dari orang-orang sekitarku, terutama Seren. Berkatnya aku menjadi seperti ini untuk menata masa depanku.
Aku tak membanyangkan ketika Seren tak menemaniku saat itu. Aku ingin membalas budi baiknya terhadapku. Tapi dia hanya teman imajinasiku yang ada dalam pikiran dan hatiku. Dia muncul saat itu dan mengenggam tanganku. Dia mengatakan bahwa dia selalu disampingku ketika aku butuh dalam kesepian. Sifat ketulusannya itu yang tak pernah kulupakan dalam hidupku.
Meskipun aku punya teman yang tak “nyata”, tapi aku selalu menghargainya seperti teman-teman normalku. Dia adalah orang terpenting dalam hidupku dan tak terhitung jumlahnya untuk mengobankan semuanya untukku. Dalam setiap doaku, dia selalu kudoakan agar selalu menemaniku setiap waktu dan membalas kebaikannya kepadaku.
Hingga aku menemukan pasangan hidupku, Seren masih menjadi teman imajinasiku sampai hari ini dan tak lupa dengan senyum manisnya itu. Ketika aku menjadi seorang ibu, aku tau bahwa kasih sayang dariku itu sangat penting bagi perkembangannya. Tak lupa aku menceritakan pengalaman ini pada anakku yang kuberi nama “Serena” yang mengambil nama dari temanku imajinasiku.
Terima kasih Seren, kau selalu kuingat sampai akhir hayatku.


Selesai
My Helping Friend

Semua hari-hari ku terasa berat. Entah kenapa orang tuaku, teman-temanku dan lingkungan sekitarku menganggapku seperti itu. Aku tak seperti orang lain pikirkan, aku serasa berbeda. Kadang aku ingin mengakhiri jalan hidupku yang merana ini. Sudah kuat lagi aku dengan tekanan dan cemooh orang. Tapi ada yang membuatku semangat lagi dan lagi. Dia adqlah teman ku, namanya Seren. Dia sangat cantik dan selalu menyemangati ku ketika aku merasa putus asa. Dia selalu menemaniku setiap hari bahkan sampai menjelang tidur. Aku tak menyangka mendapatkan teman yang baik seperti jtu.
Boneka kesukaanku pun banyak di kamar dan beberapa mainan masak-masakan, ya khusus buat anak cewek. Seren sangat suka sekali boneka anjing dan selalu dipeluknya. Kita selalu berbagi pengalaman tentang apapun. Mungkin aku yang selalu bercerita banyak kepadanya sampai dia mulai sedikit bosan dengan ceritaku. Senang, susah, sedih, bahagia dan keadaan apapun aku selalu bercerita kepadanya. Terkadang dia juga cerita tentang kehidupannya yang lebih merana daripada aku.
Aku tak tau harus cerita ke siapa lagi, mama dan papa ku sibuk bekerja. Kakak laki-laki ku tak pernah dirumah dan bibi selalu mengerjakan urusan dapurnya. Aku sedih tak punya teman satu pun kecuali Seren. Bahkan teman sekolahku tak ada yang menemaniku dan beralih menjauh dariku. Apa aku berbeda dengan orang lain? Apa aku anak pungut? Atau aku tidak normal seperti yang lain? Entah pertqnyaan-pertanyaan itu yang membuat ku depresi dan ingin bunuh diri.
Tapi, sahabatku ini lebih menderita daripadaku. Dia bercerita bahwa dia disiksa menjadi pembantu oleh mama dan papa angkatnya. Entahlah alasan mereka menyiksa sahabatku ini. Aku tak menyangka bahwa mereka setega itu dan tak berperikemanusiaan. Namun, dia tak pernah melihatkan ekspresi sedih kepadaku jadi aku pun gembira bersamanya.
Aku tau aku menyadari bqhwa aku berbeda dengan orang lain. Seperti aku melihat kucing yang berjalan, itu tak pernah memandang seperti hewan tapi seperti teman bagiku dan memiliki jiwa layaknya manusia. Kucing yang tadinya takut dengan manusia, akan tetapi kuvcing itu mendatangiku dan mengeluskan kepalanya kepadaku sama seperti tuan di kucing. Beberapa orang mungkin menggagpku seorang “ Indigo”, tapi menurutku adalah sebuah keahlian alami. Dan aku melihat temanku atau orang-orang terdekatku mungkin dilahirkan sama dengan yang lain.
Dari umurku 5 tahun, aku merasa terjebak dalam diriku sendiri. Mungkin seperti aneh dan bingung. Mungkin dalam masa itu, aku dirasa “aneh” oleh orang lain. Tingkah lakuku kalem dan tak banyak tingkah seperti orang yang sudah dewasa tapi aku sangat suka bermain yang bersentuhan secara fisik seperti bermain “gobaksodor”. dan juga aku sangat suka bermain dengan hewan. Kecoa, kucing, kodok sampai mama dan papaku memarahiku karena mereka menganggap itu kotor. Terkadang aku melihat seseorang sedang tersenyum kepadaku dan aku membalasnya tapi orang lain tak melihatnya.
Keanehanku ini menyebabkan semua teman-teman sebaya ku menjahuiku. Aku dikira anak paling aneh didunia. Teman-teman ku mengolok-olok ku karena perilakuku yang seperti ini. Jadinya aku tak memiliki teman yang akrab seperti anak-anak normal lain. Akan tetapi, aku mudah mengerti akan suatu hal sehingga nilaiku sering dipuji banyak guru. Mama dan papa ku sangat bangga atas pencapaian ku saat itu. Keanehan ku juga, aku sering sendirian tanpa ditemani siapapun kata bibiku dirumah. Aku sering senyum dan tertawa sendiri seperti orang gila. Akhirnya aku dibawa oleh kedua orang tuaku ke psikolog.
Ketika aku sampai disana, rasa takutku dan cemas ku mulai meninggi pada saat aku memasuki masa liburan sekolah. Aku tak tahu apa yang aku lakukan saat itu. Namun, psikolog itu menyamburtku dengan pernuh senyuman ramah. Aku duduk disamping psikolog itu dan kedua orang tuaku mengungguku diluar ruangan itu. Hanya dia dan aku disitu dan dia memberiku sebuah kertas. Kertas itu berisi sebuah gambar dan soal untuk aku kerjakan dalam waktu setengah jam.
Aku bisa mengerjakan soal itu dengan mudah dan percaya diri walalupun aku sempat cemas dan takut. Si psikolog itu terkejut melihatku karena soal tersebut sudah selesai dengan waktu yang relatif singkat. Lalu aku dipersilahkan keluar ruangan dan menemui orang tuaku. Dan saat tes itu aku masih berumur 8 tahun.
Dan beberapa lama sang psikolog itu menemui kami dengan wajah yang kurang sedap dipandang.
Sang psikolog itu mengajak orangtua ku kesebuah ruangan. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku pun ditinggal sendirian di lobby itu. Setelah itu, orang tuaku keluar ruangan tersebut dengan murung dan tampak seperti kecewa. Itu sebuah pukulan yang hebat diriku yang masih polos dan tak berdosa. Hingga sampai dirumah, orang tuaku tampak sama, sama seperti aku disana. Tak berselang lama, mereka bedua masuk kedalam kamar.
Aku pun bingung, kenapa dengan ku? Apa salahku? Aku menderita penyakit? Atau aku mempunyai masalah? Kenapa mereka menyembunyikan ini? Tak tau rasanya pikiranku bertanya terus-menerus hingga menghantui ku sampai beberapa hari tak bisa tidur. Sejak saat itu, orang tuaku menganggapku berbeda seperti biasanya. Sering marah-marah, cuek hingga tak peduli dengan ku. Kakakku pun entah tak pernah mengajariku bermain denganku.  
Bibi ku hanya menyemangatiku setiap ku sarapan pagi. Dia hanya tersenyum melihatku, tak lupa memberi kata-kata yang enak didengar. Aku selalu tersenyum melihatnya dan ucapan terima kasihku kepadanya. Hingga aku sampai ke sekolah menengah atas, bibi ku pun mengulanginya tanpa ada kata bosan. Dia mengatakan  kepadaku tentang kenyataan yang dilihatnya bahwa dia tak melihat siapa-siapa didalam kamar sejak masih sekolah dasar.
Dia hanya memberitahuku saat itu bahwa aku sering bermain dan bertingkah sendiri tanpa bermain dengan siapapun. Aku sontak terkejut dengan pernyataannya. Dia juga mengatakan hal ini tapi dia merasa belum cukup umur untuk mengatakannya kepadaku. Aku seperti bingung dan aneh bahwa selama ini aku merasa dia itu ada dan nyata. Namun, orang-orang sekitarku tak melihatnya seperti aku berteman dengan Seren.

Saat malam itu, aku berpikir bahwa dia adalah teman imajinasiku karena aku mengalami kesepian yang mendalam. Tapi dia menghampiriku dengan senyuman. Dia mengatakan kalau selama ini, dia bukan manusia. Dia adalah teman imajinasiku. Aku hanya menangis dan tak tahu apa yang harus aku lakukan. Lalu, aku lari ke bibi ku dan menangis tersedu-sedu. Dan aku mengatakan kepadanya bahwa dia hanya teman imajinasiku dan tak nyata.
Bibi ku terkejut dengan kedatanganku malam itu, aku memeluknya seperti ibuku sendiri. Saat itu, semua anggota rumah pergi ke rumah saudara, aku dan bibiku yang tidak ikut. Aku mengatakan kepadanya bahwa Seren adalah teman baikku. Dia yang selalu menyemangatiku ketika aku sedang sedih dan putus asa. Dia selalu menghiburku dan menemaniku saat aku kesepian. Dia yang selalu menemaniku belajar pelaran yang tidak ku pahami.
Bibi ku saat itu hanya membalas tangisanku dengan senyuman yang menyejukkan. Hanya balasan yang takkan pernah kulupa. Aku menderita penyakit mental hanya beberapa orang saja yang mengalaminya. Aku mempunyai gangguan tidak membedakan hal yang nyata dan tidak nyata, seperti Indigo. Bibi ku memberitahuku bahwa aku mengalami kejadian itu.
Orang tuaku terutama ayah kandungku, tidak percaya dengan hal itu dan berimbas dengan ketidakpeduliannya terhadapku. Aku menerima semua kenyataan yang dikatakan oleh bibiku. Bibi ku tak kuasa menahan kesedihannya terhadapku yang “ aneh” ini. Dan tak selang beberapa lama, aku pun tertidur dipangkuan bibiku. Bibiku menidurkanku di tempat tidurnya yang sederhana itu dengan penuh perhatian.
Aku bermimpi bahwa aku bertemu dengan Seren yang sedang bermain petak umpet. Aku tertawa dan bahagia seperti tak punya beban sama sekali. Dia pun sama denganku dengan senyum manis di pipi tembemnya. Dia mengatakan kepadaku kalau dia akan terus bersamaku dan menjadi teman selamanya. Aku mengiyakan ucapannya itu.
Aku lalu terbangun pagi itu. Itu adalah hari kelulusanku saat sekolah menegah atas. Kedua orang tuaku hadir saat itu dan betapa terkejutnya aku menjadi lulusan terbaik tahun ini. Aku tak menyangka dengan semangat belajarku, aku bisa menjadi berprestasi. Orang tuaku mengangis haru ketika aku di podium dan diberikan sertifikat dari sekolah ku.
Aku sangat berterima kasih pada semua orang yang mendukungku orang tuaku, bibi ku, guruku dan khususnya untuk teman imajinasiku, Seren. Dia hadir saat itu dengan penuh kebahagiaan yang terlukis di wajahnhya. Mungkin, aku menganggapnya sebagai sahabat bahkan seperti saudara kandungku sendiri. Kesepian bukan penggalang lagi bagiku karena ada seseorang yang membantuku tulus untuk masa depanku.
Hingga aku memasuki perguruan tinggi, aku pun membuka diriku dan mempunyai beberapa teman seperjuangan. Aku tau apa yang harus kulakukan seperti nasehat dari teman imajinasiku. Bahkan dia selalu terbayang dalam pikiranku dan kerinduanku terhadapnya. Kenyataan harus ku hadapi selama hidupku. Aku terus belajar dengan serius dan aktif di sebuah organisasi kampus hingga mendapatkan beberapa banyak penghargaan dari kampus maupun dari luar kampusku.
Sampai lulus dan memakai baju toga universitas, aku mendapatkan penghargaan lagi dengan predikat “Cumlaude”. Ibu dan ayah terharu dan bangga mempunyai anak sepertiku didalam usia senjanya. Kakak ku pun menikah setelah sehari acara kelulusanku. Dan disaat itupun aku ditelfon oleh perusahaan bahwa aku diterima kerja diperusahaannya.
Aku menangis terharu dengan semua itu. Kerja kerasku dan doa yang setiap hari ku panjatkan berakhir dengan indah. Tuhan selalu menyayangiku setiap saat, batinku. Hadih ini tak luput dari orang-orang sekitarku, terutama Seren. Berkatnya aku menjadi seperti ini untuk menata masa depanku.
Aku tak membanyangkan ketika Seren tak menemaniku saat itu. Aku ingin membalas budi baiknya terhadapku. Tapi dia hanya teman imajinasiku yang ada dalam pikiran dan hatiku. Dia muncul saat itu dan mengenggam tanganku. Dia mengatakan bahwa dia selalu disampingku ketika aku butuh dalam kesepian. Sifat ketulusannya itu yang tak pernah kulupakan dalam hidupku.
Meskipun aku punya teman yang tak “nyata”, tapi aku selalu menghargainya seperti teman-teman normalku. Dia adalah orang terpenting dalam hidupku dan tak terhitung jumlahnya untuk mengobankan semuanya untukku. Dalam setiap doaku, dia selalu kudoakan agar selalu menemaniku setiap waktu dan membalas kebaikannya kepadaku.
Hingga aku menemukan pasangan hidupku, Seren masih menjadi teman imajinasiku sampai hari ini dan tak lupa dengan senyum manisnya itu. Ketika aku menjadi seorang ibu, aku tau bahwa kasih sayang dariku itu sangat penting bagi perkembangannya. Tak lupa aku menceritakan pengalaman ini pada anakku yang kuberi nama “Serena” yang mengambil nama dari temanku imajinasiku.
Terima kasih Seren, kau selalu kuingat sampai akhir hayatku.


Selesai

Komentar

Postingan Populer